Rabu, 12 Maret 2014

Cerpen :D

AKU CINTA sePEDA-MU
            Kriiiiiiing!!!!
            Bunyi bel yang memekakan telinga membuat seluruh siswa berhamburan keluar dari kelas. Jam dinding menunjukkan pukul 03.00. Marfu’ah bergegas menuju tempat parkir dan menunggu kekasihnya, Tomo. Marfu’ah duduk di atas sepeda butut milik Tomo. Sebenarnya ia malu harus antar jemput dengan motor butut yang sering mogok itu. Bahkan tak jarang ia harus mendorongnya kala mesin tua itu mulai merasa lelah dengan beban yang dipikulnya. Namun, ia tak rela melepaskan kekasihnya karena disisi lain ia bangga dengan pencapaiannya mendapatkan Tomo yang dipuja-puja di sekolahnya. Tidak bisa di ragukan lagi jika Tomo memang mirip dengan artis tampan, bahkan namanya pun hanya beda tipis, yaitu Tomo Kurniawan dengan artis Tomy Kurniawan.
            “maaf Han, aku agak telat, nyelesain tugas Biologi tuh.” Sapa Tomo terengah-engah setelah berlari dari kelasnya.
            “uda gue bilang jangan panggil “Han”. Gue bukan hantu tau!” seru Marfu’ah.
            “maksud aku kan biar mesra,” jawab Tomo tak mau kalah. Marfu’ah tak menjawab dan memberi kode untuk segera menyalakan motor tuanya dan segera mangantarkannya pulang.
***
            Malam itu Marfu’ah menyalakan komputernya dan online disitus jejarIng sosialnya, Facebook. Ia tak pernah absen chatting-an dengan orang-orang yang dikenalnya lewat situs itu. Saat sedang asyik-asyiknya deringan ponsel membuatnya terlonjat. Tomo menelponnya. Seolah malas berbicara ia mengangkat telpon dari kekasihnya itu.
            “Han! Ini kan masih jam belajar, kok kamu online sih.  Nanti kalo nilai-nilai kamu turun, mama kamu pasti nyalahin aku. Aku capek disalahain terus.” Marfu’ah terbelalak dengan perkataan Tomo. Seketika darahnya naik 10x lipat. Emosinya tak dapat dia tahan, dan dia siap meledak.
            “APA LO BILANG?!! Hei !! asal lo tau ya, sebenarnya gue malu jalan sama lo, tiap kali kita jalan selalu gue dorong tuh motor, emang gue tukang gerobak dorong apa! harusnya tuh motor uda nggak lo pake. Barang kayak gitu uda pantes dimuseumin! Mulai sekarang kita PUTUS!!!” emosi yang memburu membuat Marfu’ah sulit mangatur pernapasannya. Di seberang sana, Tomo tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar. Tenggorokannya kering, suaranya tidak mau keluar. Ia memaksa bersuara hingga terdengar intonasi yang aneh.
            “kok kamu tiba-tiba gini?” tanyanya.
            “lo ngertikan apa yang baru aja gue ucapin. Kita putus, udahan, pisah, gak jalan bareng lagi! Oke.” Tuut...tuut...tuut.. telepon dimatikan. Tomo berusaha mencerna ucapan Marfu’ah. Akhirnya ia menerima keputusan menyakitkan itu.
***
            Di sekolahnya, Tomo lebih banyak diam. Berbeda dengan Marfu’ah yang sudah memiliki pacar baru lagi. Marfu’ah menggandeng Ngatmin yang wajahnya jauh lebih buruk dari Tomo. Sesampainya di kelas, teman-temannya menghampiri Marfu’ah penasaran.
            “hei, kok kamu tiba-tiba bergandengan dengan Ngatmin sih Mar? Gimana kalo Tomo marah sama kamu??” tanya seorang siswi di sampingnya.
            “aku udah putus kok sama Tomo, lagian aku udah nggak betah lama-lama sama dia. Udah nggak bermodal, sepeda motor butut aja masih di pakek.” Teman-teman di sekitarnya terperangah dengan apa yang baru saja diucapnya.
            “kok kamu bisa begitu sih. Yang penting dia baik, setia, pinter lagi.” Protes siswi lain di belakangnya.
            “apaan sih kalian, yang begituan udah nggak zaman kali! Kuno banget sih jadi orang. Sekarang itu yang terpenting adalah kendaraan yang ditunggangi. Contohnya aja Ngatmin, aku beruntung banget bisa naik Fixion-nya.” Marfu’ah membela dirinya, dia mulai menyombongkan Ngatmin. Teman-temannya mulai muak dengan tingkah Marfu’ah yang semakin menjadi.
            Setiap minggu Marfu’ah berboncengan dengan pria yang berbeda dan jelas saja semua kendaraan yang di tumpanginya rata-rata hampir sama, Vixion dan Satria. Dua bulan berlalu, Marfu’ah tak kunjung sadar dengan perilaku buruknya. Tidak ada teman yang ingin berteman dengannya. Dia hanya cuek dan tak menghiraukannya.
***
            Pagi itu cukup cerah, sekolah mulai ramai karena sepuluh menit lagi bel  berbunyi. Tiba-tiba semua pandangan  siswa tertuju pada pintu gerbang. Seorang dengan motor keluaran terbaru masuk dengan gagahnya. Marfu’ah penasaran dengan orang yang menurutnya keren. Begitu pria itu membuka helmnya, Marfu’ah terbelalak melihatnya. Jantungnya serasa mau copot, darahnya berhenti mengalir, otaknya pun tak berfungsi. Semua mata tertuju pada Marfu’ah yang berdiri mematung di koridor utama. Tomo berjalan menuju kelasnya melewati Marfu’ah yang masih tak berkedip. Tomo sempak tersenyum sinis kepada Marfu’ah. Senyuman itu seperti tamparan keras bagi Marfu’ah.
            Di kelasnya Marfu’ah tak berbicara satu kata pun dengan teman-temannya. Matanya berkaca-kaca, bahkan hatinya pun menangis. Seorang teman menghampirinya.
            “hei, kenapa lo dari tadi diem mulu?” Marfu’ah menggelengkan kepalanya pelan. “lo syok ya liat Tomo naik motor keren gitu? Lo berapa lama sih pacaran sama dia? Masak yang kayak gitu aja lo nggak tau.” Rentetan pertanyaan Wignyo membuat telinga Marfu’ah panas. Namun ia penasaran apa yang sebenarnya ia  tak tahu.
            “gue nggak tau apa-apa tentang dia.” Pernyataan Marfu’ah membuat Wignyo tertegun.
            “Tomo itu anak orang kaya. Orang tuanya salah satu pemilik saham terbesar di Korea. Kalo nggak salah grupnya itu... Jeguk.” Marfu’ah terbelalak mendengarnya. Ia tak percaya jika Tomo memang benar-benar anak pengusaha besar. “tunggu dulu lo jangan berlebihan kagetnya. Sebenarnya dia nggak mau pake barang-barangnya yang serba mewah karena dia takut temen yang deket sama dia bukan karena ketulusan tapi karena apa yang dia punya. Dia bener-bener baik, menurut gue dia itu sempurna. Udah cakep, pinter, baik, tajir lagi. Kurang apa coba?” penjelasan Wignyo membuat Marfu’ah ambruk. Dia pun tak sadarkan diri.
            Di ruang UKS Marfu’ah terbaring. Wajahnya pucat, ia masih tak mampu berdiri. Namun, ia memaksakan dirinya untuk bangun. Namun, bumi terasa berputar dan ia kehilangan keseimbangan. Nyaris saja dia membentur diding, namun sebuah tangan menopangnya. Marfu’ah segera sadar begitu mengetahui bahwa orang itu Tomo. Marfu’ah menarik tangannya, namun Tomo mencengkram tangannya kuat-kuat.
            “Mar, jika kamu ingin pacar yang menaiki motor keren. Aku akan lakukan untukmu.” Marfu’ah tertegun, ia kagum dengan perkataan Tomo. “jika masih ada kesempatan untukku, bolehkah aku menjadi pacarmu lagi?” tanya Tomo pelan. Marfu’ah menganngguk semangat. Ia langsung kembali sehat dan seolah tidak terjadi apa-apa.
            Setiap hari Tomo mengantarkan Marfu’ah sekolah dan kemana pun dia minta, Tomo selalu mengantarnya. Marfu’ah tak lagi bersikap buruk kepada Tomo dan ia selalu menuruti perintah positif dari sang pacar.
SELESAI