AKU CINTA sePEDA-MU
Kriiiiiiing!!!!
Bunyi bel yang memekakan telinga
membuat seluruh siswa berhamburan keluar dari kelas. Jam dinding menunjukkan
pukul 03.00. Marfu’ah bergegas menuju tempat parkir dan menunggu kekasihnya,
Tomo. Marfu’ah duduk di atas sepeda butut milik Tomo. Sebenarnya ia malu harus
antar jemput dengan motor butut yang sering mogok itu. Bahkan tak jarang ia
harus mendorongnya kala mesin tua itu mulai merasa lelah dengan beban yang
dipikulnya. Namun, ia tak rela melepaskan kekasihnya karena disisi lain ia
bangga dengan pencapaiannya mendapatkan Tomo yang dipuja-puja di sekolahnya.
Tidak bisa di ragukan lagi jika Tomo memang mirip dengan artis tampan, bahkan
namanya pun hanya beda tipis, yaitu Tomo Kurniawan dengan artis Tomy Kurniawan.
“maaf Han, aku agak telat, nyelesain
tugas Biologi tuh.” Sapa Tomo terengah-engah setelah berlari dari kelasnya.
“uda gue bilang jangan panggil
“Han”. Gue bukan hantu tau!” seru Marfu’ah.
“maksud aku kan biar mesra,” jawab
Tomo tak mau kalah. Marfu’ah tak menjawab dan memberi kode untuk segera
menyalakan motor tuanya dan segera mangantarkannya pulang.
***
Malam itu Marfu’ah menyalakan
komputernya dan online disitus jejarIng
sosialnya, Facebook. Ia tak pernah
absen chatting-an dengan orang-orang
yang dikenalnya lewat situs itu. Saat sedang asyik-asyiknya deringan ponsel
membuatnya terlonjat. Tomo menelponnya. Seolah malas berbicara ia mengangkat
telpon dari kekasihnya itu.
“Han! Ini kan masih jam belajar, kok
kamu online sih. Nanti kalo nilai-nilai
kamu turun, mama kamu pasti nyalahin aku. Aku capek disalahain terus.” Marfu’ah
terbelalak dengan perkataan Tomo. Seketika darahnya naik 10x lipat. Emosinya
tak dapat dia tahan, dan dia siap meledak.
“APA LO BILANG?!! Hei !! asal lo tau
ya, sebenarnya gue malu jalan sama lo, tiap kali kita jalan selalu gue dorong
tuh motor, emang gue tukang gerobak dorong apa! harusnya tuh motor uda nggak lo
pake. Barang kayak gitu uda pantes dimuseumin! Mulai sekarang kita PUTUS!!!”
emosi yang memburu membuat Marfu’ah sulit mangatur pernapasannya. Di seberang
sana, Tomo tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar. Tenggorokannya kering,
suaranya tidak mau keluar. Ia memaksa bersuara hingga terdengar intonasi yang
aneh.
“kok kamu tiba-tiba gini?” tanyanya.
“lo ngertikan apa yang baru aja gue
ucapin. Kita putus, udahan, pisah, gak jalan bareng lagi! Oke.” Tuut...tuut...tuut.. telepon dimatikan.
Tomo berusaha mencerna ucapan Marfu’ah. Akhirnya ia menerima keputusan
menyakitkan itu.
***
Di sekolahnya, Tomo lebih banyak
diam. Berbeda dengan Marfu’ah yang sudah memiliki pacar baru lagi. Marfu’ah
menggandeng Ngatmin yang wajahnya jauh lebih buruk dari Tomo. Sesampainya di
kelas, teman-temannya menghampiri Marfu’ah penasaran.
“hei, kok kamu tiba-tiba bergandengan
dengan Ngatmin sih Mar? Gimana kalo Tomo marah sama kamu??” tanya seorang siswi
di sampingnya.
“aku udah putus kok sama Tomo,
lagian aku udah nggak betah lama-lama sama dia. Udah nggak bermodal, sepeda
motor butut aja masih di pakek.” Teman-teman di sekitarnya terperangah dengan
apa yang baru saja diucapnya.
“kok kamu bisa begitu sih. Yang
penting dia baik, setia, pinter lagi.” Protes siswi lain di belakangnya.
“apaan sih kalian, yang begituan
udah nggak zaman kali! Kuno banget sih jadi orang. Sekarang itu yang terpenting
adalah kendaraan yang ditunggangi. Contohnya aja Ngatmin, aku beruntung banget
bisa naik Fixion-nya.” Marfu’ah
membela dirinya, dia mulai menyombongkan Ngatmin. Teman-temannya mulai muak
dengan tingkah Marfu’ah yang semakin menjadi.
Setiap minggu Marfu’ah berboncengan
dengan pria yang berbeda dan jelas saja semua kendaraan yang di tumpanginya
rata-rata hampir sama, Vixion dan Satria. Dua bulan berlalu,
Marfu’ah tak kunjung sadar dengan perilaku buruknya. Tidak ada teman yang ingin
berteman dengannya. Dia hanya cuek dan tak menghiraukannya.
***
Pagi itu cukup cerah, sekolah mulai
ramai karena sepuluh menit lagi bel
berbunyi. Tiba-tiba semua pandangan
siswa tertuju pada pintu gerbang. Seorang dengan motor keluaran terbaru
masuk dengan gagahnya. Marfu’ah penasaran dengan orang yang menurutnya keren.
Begitu pria itu membuka helmnya, Marfu’ah terbelalak melihatnya. Jantungnya
serasa mau copot, darahnya berhenti mengalir, otaknya pun tak berfungsi. Semua
mata tertuju pada Marfu’ah yang berdiri mematung di koridor utama. Tomo
berjalan menuju kelasnya melewati Marfu’ah yang masih tak berkedip. Tomo sempak
tersenyum sinis kepada Marfu’ah. Senyuman itu seperti tamparan keras bagi
Marfu’ah.
Di kelasnya Marfu’ah tak berbicara
satu kata pun dengan teman-temannya. Matanya berkaca-kaca, bahkan hatinya pun
menangis. Seorang teman menghampirinya.
“hei, kenapa lo dari tadi diem
mulu?” Marfu’ah menggelengkan kepalanya pelan. “lo syok ya liat Tomo naik motor
keren gitu? Lo berapa lama sih pacaran sama dia? Masak yang kayak gitu aja lo
nggak tau.” Rentetan pertanyaan Wignyo membuat telinga Marfu’ah panas. Namun ia
penasaran apa yang sebenarnya ia tak
tahu.
“gue nggak tau apa-apa tentang dia.”
Pernyataan Marfu’ah membuat Wignyo tertegun.
“Tomo itu anak orang kaya. Orang
tuanya salah satu pemilik saham terbesar di Korea. Kalo nggak salah grupnya
itu... Jeguk.” Marfu’ah terbelalak mendengarnya. Ia tak percaya jika Tomo
memang benar-benar anak pengusaha besar. “tunggu dulu lo jangan berlebihan kagetnya.
Sebenarnya dia nggak mau pake barang-barangnya yang serba mewah karena dia
takut temen yang deket sama dia bukan karena ketulusan tapi karena apa yang dia
punya. Dia bener-bener baik, menurut gue dia itu sempurna. Udah cakep, pinter,
baik, tajir lagi. Kurang apa coba?” penjelasan Wignyo membuat Marfu’ah ambruk.
Dia pun tak sadarkan diri.
Di ruang UKS Marfu’ah terbaring.
Wajahnya pucat, ia masih tak mampu berdiri. Namun, ia memaksakan dirinya untuk
bangun. Namun, bumi terasa berputar dan ia kehilangan keseimbangan. Nyaris saja
dia membentur diding, namun sebuah tangan menopangnya. Marfu’ah segera sadar
begitu mengetahui bahwa orang itu Tomo. Marfu’ah menarik tangannya, namun Tomo
mencengkram tangannya kuat-kuat.
“Mar, jika kamu ingin pacar yang
menaiki motor keren. Aku akan lakukan untukmu.” Marfu’ah tertegun, ia kagum
dengan perkataan Tomo. “jika masih ada kesempatan untukku, bolehkah aku menjadi
pacarmu lagi?” tanya Tomo pelan. Marfu’ah menganngguk semangat. Ia langsung kembali
sehat dan seolah tidak terjadi apa-apa.
Setiap hari Tomo mengantarkan
Marfu’ah sekolah dan kemana pun dia minta, Tomo selalu mengantarnya. Marfu’ah
tak lagi bersikap buruk kepada Tomo dan ia selalu menuruti perintah positif
dari sang pacar.
SELESAI


